Esensi Pendidikan QS. Al Kahfi Ayat 66-70 Bab 4

ESENSI  PENDIDIKAN QS. AL-KAHFI AYAT 66-70 TENTANG PERAN PENDIDIK DALAM MEMBIMBING PESERTA DIDIKNYA BAB 4

A. Esensi Pendidikan yang Terkandung dalam Q.S al-Kahfi ayat 66 -70

Kandungan al-Qur’an yang sangat luas dan dalam, bagaikan lautan yang tak pernah habis dikaji dan di teliti oleh manusia. Diantara kisah yang terdapat dalam al-Quran yaitu kisah perjalanan Nabi Musa as. Dan Nabi Khidir as. yang tercantum dalam surat al-Kahfi ayat 66-70.

Kisah ini sangat erat berkaitan dengan pendidikan karena merupakan sebuah interaksi yang mengandung unsur pendidikan. Adapaun interaksi, dapat disebut interakasi edukatif, apabila memiliki beberapa unsur dasar, diantaranya ialah: tujuan pendidikan yang akan dicapai, pendidik, peserta didik, dan metode tertentu untuk mencapai tujuan. Adapun esensinya yaitu:

Pertama, dalam hal tujuan pendidikan. Pendidikan Islam bertujuan untuk membimbing manusia agar berakhlak mulia, terampil, cerdas, bertanggung jawab atas keselamatan dan kemaslahatan dirinya dan masyarakat. Dan dari kisah Nabi Musa dan Khidir, pada pertemuan pertama antara Nabi Musa dan Khidir dapat dipaparkan asal-usul Musa. Latar belakang Musa ini kiranya menjadi bahan masukan bagi Nabi Khidir dalam merumuskan tujuan pendidikan, yakni pembinaan akhlak, dari kesombongan berbalik menjadi tawadhu (rendah hati) dalam situasi bagaimanapun.

M. Athiyah Al-Abrasi, sebagaimana dikutip oleh Hasan Langgulung (2004: 51) mengemukakan, ada 5 (lima) tujuan yang ingin dicapai dengan pendidikan Islam, yakni
  1. Membentuk budi pekerti yang baik
  2. Mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat sekaligus
  3. Memperhatikan segi-segi manfaat
  4. Mengkaji ilmu semata-mata untuk ilmu itu saja
  5. Mempersiapkan anak didik berkarya praktek dan berproduksi sehingga dapat bekerja, mendapat rezeki, hidup dengan terhormat, serta tetap memelihara segi-segi kerohanian dan keagamaan.      
Kedua, peserta didik. Pendidikan berjalan dengan baik apabila kesediaan dan kesetiaan antara peserta didik dan guru, agar peserta didik dapat memiliki ilmu, ia dituntut untuk memiliki sifat-sifat tertentu.
Maka jelaslah bahwa kisah Nabi Musa as. tersebut memberikan tamsil pada kita bahwa seorang peserta didik harus berusaha untuk memiliki kriteria-kriteria tersebut diatas.

Sebelum Nabi Musa as. berangkat mencari Nabi Khidir as. beliau memerintahkan agar menyediakan seekor ikan yang besar kemudian di simpan pada sebuah kantong sebagai suatu tanda. Bila ikan itu hilang, maka disitulah Nabi Khidir tinggal. Dari peristiwa tersebuit tercermin bahwa mencari ilmu kita harus menyediakan bekal, agar kita bisa bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu tersebut.

Sopan santun terhadap guru dan berendah diri kepadanya tercermin dari permohonan Musa kepada Nabi Khidir, “bolehkah aku mengikutimu agar kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”. Dari uraian ini menurut penulis dapat diambil garis merah bahwa esensi pendidikan yang terkandung dalan ayat ini menjadi pelajaran agar peserta didik memiliki motivasi yang tinggi dan memiliki sikap sopan santun dan berendah diri.

Ketiga, Pendidik. Pendidik/Guru adalah salah satu komponen pendidikan yang memegang peranan penting dalam membantu dan mengarahkan anak didik. Sebagai seorang guru yang digugu dan ditiru, maka ia di tuntut memiliki karakteristik yang baik untuk mempengaruhi anak didiknya.

M. Athiyah Al-Abrasi, Sebagaimana dikutip oleh Abidin Ibn Rusn (2009: 65) merumuskan bahwa seorang guru harus memiliki beberapa sifat, yaitu:
  1. Zuhud, tidak mengutamakan materi dan mengajar karena mengharap keridhaan Allah semata.
  2. Kebersihan guru baik jasmani maupu rohani.
  3. Ikhlas dalam pekerjaan,
  4. Suka pemaaf.
  5. Merupakan seorang bapak sebelum ia jadi guru,
  6. Mengetahui tabi’at peserta didik, dan
  7. Menguasai materi pelajaran.
Pandangan manusia terhadap masalah yang gaib akan berbeda dengan pandangan Allah atau orang yang telah diajari-Nya. Nabi Khidir hanya mengingatkan akan disiplin yang pernah disepakatinya. Ia tidak berlaku sombong dengan ilmu yang dimilikinya. Keinginan Nabi Khidir akan keselamatan dan kebaikan Nabi Musa sebagai pembawa risalah kepada kaumnya, tercermin dari kesediaan beliau menerima kembali Musa berguru dengannya untuk melanjutkan perjalanan.

Dari uraian ini dapat kita rumuskan bahwa kisah Musa memperlihatkan adanya unsur pendidikan, dimana Khidir sebagai seorang pendidik mengenali masalah yang dihadapi oleh peserta didiknya, memiliki sikap kasih sayang, lemah lembut dan sabar, pemaaf dan menguasai materi palajarannnya dimana Musa tidak mengetahui apa yang diajarkan oleh Khidir. Disamping itu kisah ini juga memberikan pelajaran kepada para kaum muslimin akan akhlak yang harus dipegangi baik sebagai muslim secara personal maupun ketika ia mendapat peranan sebagai guru.

Keempat, Metode Pendidikan. Metode pendidikan merupakan cara yang dipakai untuk mencapai tujuan pendidikan. Metode pendidikan ini bermacam-macam. Menurut Abdurrahman al-Nahlawi  (1989: 283) diantara metode yang terpenting ialah:
  1. Metode hiwar (percakapan) Qurani dan Nabawi
  2. Mendidik dengan kisah-kisah Qurani dan Nabawi
  3. Mendidik dengan amtsal (perumpamaan) Qurani dan Nabawi.
  4. Mendidik dengan memberikan uswah hasanah (teladan yang baik)
  5. Mendidik dengan dengan pembiasaan diri dan pengamalan
  6. Mendidik dengan mengambil ibrah (pelajaran) dan mau’idhah (peringatan)
  7. Mendidik dengan targhib (membuat senang) dan tarhib (membuat takut)
Dari beberapa metode diatas sebenarnya metode pendidikan apa yang dipakai oleh Khidir dalam mendidik Musa?. Pertama-tama sebelum Nabi Khidir menentukan metode yang digunakan dalam proses pendidikan yang akan dilaksanakannya, terlebih dahulu beliau bertanya pada peserta didiknya dalam hal ini Nabi Musa tentang asal-muasalnya, kedudukan dan tujuan kedatangannya. Perlakuan Nabi Khidir yang demikian itu berpengaruh sekali dalam menentukan metode yang digunakan.

Dalam ekspedisinya dengan Nabi Khidir, Musa berkali-kali bertanya kepadanya tentang pelajaran yang belum berhak dipelajarinya secara tergesa-gesa. Namun Nabi Khidir menegurnya dengan tenang bahwa peserta didiknya ini tidak akan bersabar. Dari peristiwa tersebut terlihat bahwa metode yang digunakan oleh Nabi Khidir adalah membiasakan diri agar tidak tergesa-gesa dalam menghukumi sesuatu, berdasarkan pada ilmu yang dimilikinya.
 
Disamping itu terlihat juga Nabi Khidir menegakkan disiplin dengan berusaha untuk menerangkan apa yang disepakatinya sebelum pemberangkatan. Dari hal ini terlihat bahwa Nabi Khidir menggunakan metode uswah hasanah atau memberi suri tauladan yang baik, yaitu selalu berdisiplin, menepati janji, dan sadar akan tujuan. Ajaran tersebut merupakan bagian dari akhlak yang baik, dan dapat diambil sebagai pedoman bagi masyarakat muslim agar selalu disiplin, menepati janji dan lain-lain.

Kelima, situasi pendidikan. Pada dasarnya pendidikan itu adalah suatu proses interaksi antara pendidik dengan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Proses interaksi tersebut dimungkinkan oleh kenyataan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki sifat sosial yang besar. Setiap proses interaksi terjadi dalam ikatan suatu situasi, tidak dalam alam hampa. Diantara berbagai jenis situasi itu terdapat situasi yang terdapat satu jenis situasi khusus, yakni situasi pendidikan atau situasi edukatif .

Kalau kita simpulkan bahwa dalam situasi pendidikan perasaan kasih sayang itu bukanlah hanya didapatkan dari kedua orang tua, melainkan juga dari segenap pendidik yang mengadakan hubungan dengan para peserta didiknya. Kalau kita tilik kembali kisah Nabi Musa dan Khidir dalam perlawatan keduanya tercermin adanya situasi pendidikan. Situasi tersebut dapat terlihat dari dialog diantara mereka berdua.

Sebelum terjadi perlawatan terjadi persetujuan agar Musa tidak bertanya, karena semua akan dijelaskan nanti. Akan tetapi karena perbuatan gurunya bertolak belakang dengan syari’at yang dianjurkan dan diserukannya, maka setiap terjadi keganjilan, pada saat itu pula ditanyakan. Perbedaan pandangan ini dimengerti oleh gurunya, namun bagaimanapun ia harus mengingatkan kedisiplinan peserta didiknya. Dengan sabar dan lemah lembut Nabi Khidir mengingatkan peserta didiknya.

Tegur sapa Nabi Khidir terhadap peserta didiknya selama perlawatan tersebut disampaikan dengan lemah lembut dan sabar. Dan menyimak dialog yang terjadi antara Musa dan Khidir tercermin suatu situasi yang edukatif, yang menonjol dalam interaksi itu adalah peranan guru dengan sifat dan sikapnya yang positif, seperti kasih sayang, sabar, terbuka, dan menghargai anak didik sebagai pribadi yang memiliki harga diri serta rendah diri, dan ini harusnya menjadi contoh bagi kaum muslimin khususnya bagi seorang pendidik/guru bagaimana akhlak yang diterapkan Khidir tersebut bisa kita aplikasikan dalam kegiatan belajar-mengajar kita sehari-hari.

B. Nilai-nilai Pendidikan yang Terkandung Pada Q.S al-Kahfi ayat 66-70 Tentang Peran Pendidik dalam membimbing Peserta Didik.
 
Sebagaimana disebutkan pada episode pertama, betapa kuat tekad Nabi Musa as. untuk bertemu dengan Nabi Khidir as. Dengan bekal kemauan kerasnya, akhirnya Nabi Musa dapat bertemu dengan orang yang dicarinya.

Ketika Nabi Musa dan peserta didiknya kembali lagi menuju batu besar tempat menghilangnya ikan yang dibawa peserta didiknya, mereka bertemu dengan hamba Allah yang dicari-cari, ia mengenakan pakaian serba putih. Nabi Musa pun segera mengucapkan salam. Khidir berkata, “Benarkah ada kedamaian di negerimu?” Musa menjawab, “Aku ini Musa, Musa dari Bani Israil ?” tanya Khidir. “Ya” jawab Musa, “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan aku sesuatu yang telah diajarkan Allah kepadamu untuk aku jadikan pedoman dalam urusanku ini, yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. “Khidir menjawab, “Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup sabar bersamaku, Musa. Karena sungguh aku mempunyai ilmu dari Allah yang tidak kamu ketahui, dan kamu pun mempunyai ilmu dari Allah yang telah Dia ajarkan kepadamu dan aku mengetahuinya.”

Lebih lanjut Nabi Khidir berkata, “Bagaimana kamu dapat bersabar? Engkau adalah seorang Nabi yang akan menyaksikan apa-apa yang saya lakukan, yang pada lahirnya merupakan kemunkaran, sedang hakikatnya belum engkau ketahui, kemudian Musa berkata, insya Allah kamu akan mendapatiku sebagian orang sabar dalam menyertaimu tanpa mengingkari kamu, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan yang kamu perintahkan kepadaku, yang tidak bertentangan dengan zahir dari perintah Allah. Kemudian Khidir berkata, “Bila kamu berjalan bersamaku, janganlah kamu bertanya kepadaku tentang sesuatu yang tidak kamu setujui terhadapku, sebelum aku terangkan kepadamu segi kebenarannya. Sungguh aku tidak akan melakukan sesuatu kecuali yang benar dan dibolehkan syariat. Syarat dari Nabi Khidir itu diterima Nabi Musa demi memelihara kesopanan seorang peserta didik terhadap gurunya.

Dari rangkaian kisah yang termaktub pada Q.S al-Kahfi ayat 66-70 diatas menurut penulis terdapat beberapa nilai/pelajaran yang sangat menarik jika dikaitkan dengan pendidikan. Adapun nilai-nilai pendidikannya yang dapat kita petik adalah:

1.    Kode etik/akhlak yang berhubungan dengan permohonan menjadi peserta didik.

Dalam hal ini, hendaknya seorang calon peserta didik memperlihatkan keseriusannya dengan ungkapan sopan dan tawadhu. 

Esensi Pendidikan QS. Al Kahfi Ayat 66-70 Bab 4

Menurut Quraish Shihab (2008: 98) Penambahan huruf ta pada kata attabi’uka mengandung makna kesungguhan dalam upaya mengikuti itu. Memang demikianlah seharusnya seharusnya seorang pelajar, harus bertekad bersungguh-sungguh mencurahkan perhatian, bahkan tenaganya, terhadap apa yang akan dipelajarinya. Artinya, bahwa seorang pelajar harus memiliki motivasi yang tinggi dalam belajar.

Berkaitan dengan akhlak yang harus dimiliki oleh peserta didik, Syekh al-Jarnuzi (1995: 37) menyatakan, bahwa seorang murid harus sungguh-singguh dalam belajar, harus tekun. Sebagaimana firman Allah Q.S al-Baqarah ayat 218:

Artinya:
“Dan orang-orang yang berjihad/berjuang sungguh-sungguh untuk mencari (keridhaanku), maka benar-benar Aku akan tunjukkan mereka kepada jlan-jalan menuju keridhaanku”. (Depag RI. 1979: 53)

Al-Ghazali, sebagaimana dikutip oleh Abidin Ibnu Rusn (2009: 76) menjelaskan beberapa langkah dan tugas yang harus dipenuhi oleh Peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan, yaitu:
  • Belajar merupakan proses jiwa. Pada hakikatnya yang wajib belajar adalah murid, sedangkan pendidik berperan sebagai membimbing dan penunjuk jalan dalam belajar.
  • Belajar menuntut konsentrasi.
  • Belajar harus didasari sifat tawadhu. Murid harus mempunyai sifat tawadhu terhadap ilmu dan guru, sebagai perantara diterimanya ilmu itu. Karena takabur terhadap ilmu bukanlah sikap murid yang akan mengembangkan ilmunya.
  • Belajar harus mengetahui nilai dan tujuan ilmu pengetahuan yang dipelajari.

Selanjutnya seorang calon peserta didik dituntut memosisikan diri sebagai orang yang butuh, bukan sebaliknya. Lebih lanjut, seorang peserta didik harus menyadari bahwa ia tidak mungkin mampu menyerap semua ilmu gurunya.

2.     Pendidik harus mengetahui minat dan bakat yang dimiliki Peserta Didik.

Pendidik harus dapat menempatkan diri sebagai orang tua kedua, dengan mengemban tugas yang dipercayakan orang tua/wali anak didik dalam jangka waktu tertentu. Untuk itu pemahaman terhadap jiwa dan watak anak didik diperlukan agar dapat dengan mudah memahami jiwa dan watak anak didik. Salah satunya sebelum dimualinya interaksi belajar-mengajar pendidik harus mengetahui minat belajarnya. Karena minat, bakat, kemampuan dan potensi-potensi yang dimiliki oleh peserta didik tidak akan berkembang tanpa bantuan guru.

Minat besar pengaruhnya terhadap aktivitas belajar. Anak didik yang berminat terhadap suatu mata pelajaran akan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Minat merupakan alat motivasi yang utama yang dapat membangkitkan kegairahan belajar peserta didik. Oleh karena itu, pendidik perlu membangkitkan minat anak didik.

Minat adalah kecenderungan yang menetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas. Dengan kata lain, minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh (Djamarah, S.B. 2008: 166)

Di dalam kamus besar Bahasa Indonesia (1989: 583) pengertian minat adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu, gairah dan keinginan.

Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang diperhatikan terus-menerus yang disertai dengan rasa senang (Slameto, 1991: 57)

Minat dalam pendidikan dapat dirumuskan lebih khusus yaitu pilihan di antara beberapa kemungkinan kegiatan yang dipandang akan memuaskan kebutuhan pendidikannya (Zainudin Arif, 1994: 16)

Sedangkan bakat atau aptitude adalah kemampuan bawaan untuk belajar. Kemampuan itu baru terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih (Slameto, 1991: 57)

Kenyataan ini bisa ditarik dari tes sebagaimana yang diajukan Nabi Khidir kepada Nabi Musa. Sebagaimana Q.S al-Kahfi ayat 2:

“Sesungguhnya engkau tidak akan bersabar bersamaku.”

Ayat diatas menjadi petunjuk agar pendidik melakukan tes minat dan bakat. Dan Khidir pun baru menerima Musa sebagai peserta didik setelah ia mendengar keseriusan Musa, walaupun ia memprediksi, Musa tidak mempunyai bakat dalam bidang ilmu yang dimilikinya (Ahmad, EQ. N. 2007: 185)

Imam Al-Ghazali, sebagaimana dikutip oleh Fathiyyah Hasan Sulaiman (1986: 74) menyatakan bahwa pendidik diibaratkan seorang dokter yang akan mengobati pasiennya.
         ” Pendidik hendaknya tidak membebani mereka dengan berbagai latihan dan tugas dalam bidang khusus sebelum ia (pendidik) mengetahui penyakit, keadaan, usia, tabiat dan motivasi pendidikannya.

Selanjutnya Al-Ghazali berkata: “Apabila pendidik melihat bahwa anak merasa bangga, sombong, dan merasa mulia, maka hendaknya ia menyuruh anak itu supaya pergi ke pasar-pasar untuk meminta-minta Perasaan mulia diri dan egois itu hanya akan lenyap dengan merasakan kehinaan.

Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2002: 167) beberapa cara untuk membangkitkan minat anak didik sebagai berikut:
  • Membandingkan adanya suatu kebutuhan pada diri anak didik, sehingga dia rela belajar tanpa paksaan.
  • Menghubungkan bahan pelajaran yang diberikan dengan persoalan pengalaman yang dimiliki anak didik, sehingga anak didik mudah menerima bahan pelajaran.
  • Memberikan kesempatan kepada anak didik untuk mendapatkan hasil belajar yang baik dengan cara menyediakan lingkungan belajar yang kreatif dan kondusif.
  • Menggunakan berbagai macam bentuk dan teknik mengajar dalam konteks perbedaan individual anak didik.
Dari penjelasan diatas, penulis menyimpulkan, bahwa yang harus jadi prioritas seorang pendidik dalam menerima calon peserta didiknya itu bukan bakat dulu, tetapi minat. Sebab, bisa jadi walaupun seseorang tidak mempunyai bakat, tetapi karena ia mempunyai minat yang tinggi, akhirnya ia akan berhasil menguasai ilmu tersebut, walaupun memang dalam kasus kisah ini, Musa yang hanya mengandalkan minat tidak berhasil mencapai apa yang dicita-citakannya.

3.     Pendidik harus melakukan kontrak belajar setelah mengetahui minat dan bakat Peserta didik

Setelah seorang guru mengetahui minat dan bakat calon peserta didiknya, seorang pendidik harus segera melakukan kontrak belajar dengannya. Kontrak belajar ini dalam episode kedua dapat terlihat dari ayat:

Artinya:
“jika kamu mengikutiku, janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya.”

Kontrak belajar ini pada proses pembelajaran selanjutnya akan menjadi peraturan yang mengikat antara guru dengan peserta didiknya. Jika dalam proses pembelajaran tanpa ada kontrak belajar, bisa jadi akan menyebabkan ketidakseriusan, baik di pihak pendidik maupun peserta didik.

Secara manusiawi, ketika seseorang tidak mengetahui rahasia di balik sesuatu, ia tidak akan sanggup menahan kesabaran, sehingga akan sulit baginya menemukan sesuatu yang tidak ia pahami maknanya. Hal inilah bisanya dikhawatirkan oleh seorang guru. Oleh sebab itu, seharusnya seorang peserta didik menyadari bahwa untuk mengetahui rahasia dari sesuatu memerlukan waktu cukup panjang, sehingga tidak selayaknya ia ingin segera tahu dengan mengobral pertanyaan.

4.     Pendidik hendaknya memahami tingkat pemikiran dan pemahaman (intelektual) peserta didik

Akal dan pengetahun setiap orang berbeda-beda, baik dari satu individu terhadap individu lainnya, ataupun antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Begitu pula tugas seorang pendidik harus memahami tingkat intelektual peserta didiknya.

Menurut Syamsu Yusuf (2006: 202) dalam tugas perannya pendidik harus memahami perbedaan dalam kecerdasan, prestasi belajar, sikap dan kebiasaan belajar, motivasi belajar, karakter, minat, ciri-ciri fisik, kemampuan dalam berkomunikasi, kemandirian, kedisiplinan da tanggung jawab.
    Hal ini diisyaratkan dalam firman Allah Q.S al-Kahfi ayat 68:

Artinya:
“Dan bagaimana engkau dapat sabar atas sesuatu, yang engkau belum jangkau secara menyeluruh beritanya?”

Menurut Quraish Shihab (2002: 99) ucapan hamba Allah Nabi Khidir: “Dan bagaimana engkau dapat sabar atas sesuatu, yang engkau belum jangkau secara menyeluruh beritanya?” memberi isyarat bahwa seorang pendidik hendaknya menuntun dan memahami tingkat pemahaman dan kemampuan anak didik, dan memberitahukan kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi dalam menuntut ilmu.

Al-Ghazali, sebagaimana dikutip oleh Abidin Ibnu Rusn (2009: 73) mengingatkan agar guru menyampaikan ilmu pengetahuan dalam proses belajar-mengajar sesuai tingkat kemampuan pemahaman murid. Al-Ghazali berkata:
“Guru hendaklah merangkumkan bidang studi, menurut tenaga pemahaman murid. Jangan diajarkan bidang studi yang belum sampai kesana. Nanti ia lari atau otaknya tumpul.”

Pendapat diatas memberi pengertian, bahwa sebelum guru mengajarkan pengetahuan sesuai tingkat kecerdasan mereka, maka seorang guru terlebih dahulu harus bisa mengukur tingkat kecerdasan murid.

Dalam tugas dan peranannya, guru hendaknya berusaha semaksimal mungkin untuk menjelaskam sesuatu permasalahan menggunakan lafal-lafal dengan ungkapan yang jelas dan dapat dipahami sesuai dengan tingkat pemahaman para muridnya. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi bingung dan tidak menyulitkan guru dalam mengajarkan mereka. Hakikat sesuatu akan hilang darinya jika diketahui orang itu tidak memahami penjelasannya (Al-Syalhub, F. 2006: 108)
Menurut Muhammad Arifin (1989: 80) kemampuan psikologis dalam menerima dan menghayati serta mengamalkan ajaran agama sesuai dengan usia, bakat dan lingkungan hidupnya. Seperti sabda Nabi Muhammad saw. yang menyatakan bahwa kita harus dapat berbicara kepada manusia sesuai dengan tingkat kemampuan akal pikirannya.

Murid adalah individu yang unik. Keunikan itu bisa dilihat dari adanya perbedaan. Artinya, tidak ada individu yang sama. Walaupun secara fisik memiliki kemiripan, tetapi pada hakikatnya tidaklah sama, baik dalam bakat, minat, dan kemampuannya (Sanjaya, W. 2007: 25)

Dalam perannya sebagai pendidik, Rasulullah saw. tidak pernah mempersulit, dengan harapan para sahabat memiliki motivasi yang kuat untuk tetap meningkatkan aktivitas belajar. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

Artinya:
“Hadis Muhammad ibn Basysyar katanya hadis Yahya ibn Sâ’id katanya hadis Syu’bah katanya hadis Abu Tayyâh dari Anas ibn Malik dari Nabi saw. Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda: Mudahkanlah dan jangan mempersulit. Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam suka memberikan keringanan kepada manusia” (al-Bukhari, I: 38)
 
Dari  hadis tersebut diatas dapat kita pahami, bahwa betapa pentingnya seorang pendidik memberikan kemudahan bagi peserta didik yang memiliki kesungguhan dalam belajar, dalam arti mengajarkan ilmu pengetahuan harus mempertimbangkan kemampuan sipelajar.
Dari penjelasan diatas penulis menyimpulkan, bahwa terdapat perbedaan tingkat kecerdasan dan pemahaman murid-murid, antara individu yang satu dengan yang lain.

Selanjutnya kecerdasan seorang guru/pendidik terletak pada kemampuannya dalam menyampaikan ilmu kepada muridnya sesuai dengan kemampuan murid tersebut, bukan pada kemampuan dalam memaparkan nash dan dalil, serta banyaknya persoalan yang ia kuasai.
 
5.    Pendidik hendaknya memberikan kesempatan bertanya kepada peserta didik

Bertanya dapat menghindari kesalahan dan kesamaran yang terkadang ada pada seorang murid. Ketika seorang guru telah selesai menjelaskan pelajaran, ia tidak mengetahui apakah seluruh muridnya sudah memahami pelajaran yang ia terangkan seluruhnya atau tidak. Cara untuk mengetahui hal itu adalah dengan bertanya kepada mereka tentang sebagian apa yang di jelaskannya. Namun cara yang lebih baik adalah dengan terlebih dahulu memberi kesempatan kepada muridnya untuk bertanya tentang bagian pelajaran yang sulit di pahami. Melalui pertanyaan, makna-makna tertentu yang tidak ia pahami dan mengerti dapat menjadi lebih jelas. Hal ini telah dikatakan oleh sang guru pertama Rasulullah saw.;


    Artinya:
Dari Anas bin Malik, bahwasannya orang-orang bertanya kepada Nabi saw. hingga mereka mendesak beliau  untuk menjawab pertanyaan tersebut. Lalu pada suatu hari beliau pun keluar dan naik ke atas mimbar. Kemudian beliau bersabda, ”bertanyalah kepadaku! Tidaklah kalian bertanya kepadaku, melainkan akan aku jelaskan jawabannya kepada kalian”.
 
Pada hadits diatas adapat kita lihat bagaimana seorang guru dianjurkan untuk mengucapkan, ”Bertanyalah kepadaku!”. Ungkapan ini adalah perinatah bagi murid untuk mengajukan pertanyaan. Ungkapan ini pula memberikan kepada murid pemalu agar berani bertanya kepada gurunya, dan ungkapan ini bermanfaat bagi guru untuk mengetahui tingkat pemahaman seorang murid terhadap pelajaran yang telah diterangkannya.

Selanjutnya sosok Yusa’ sudah tidak lagi diceritakan pada ayat ini. Kenyataan tersebut bisa disebabkan tugas Yusa’ hanya mengantar Nabi Musa sampai bertemu dengan orang yang dicarinya. Setelah itu, karena posisinya sebagai asisten, ia harus kembali kepada komunitas Bangsa Israil guna menunaikan tugasnya menggantikan posisi Musa sebagai guru ditengah-tengah masyarakat Bani israil selama guru besarnya menunaikan kebutuhannya dalam belajar.

Kalau di tarik pada kontek pendidikan, gambaran dalam kisah di atas memberikan kesan bahwa ketika seorang guru pergi menunaikan hajatnya, baik untuk belajar atau kepentingan lainnya, maka ia jangan membiarkan peserta didik-peserta didiknya terbengkalai. Konsekuensi logisnya, ia dituntut untuk mengangkat seorang asisten panggantinya selama ia berhalangan hadir.

Dalam pengangkatan asisten hendaknya tidak dilakukan secara asal-asalan. Minimal seorang asisten harus mempunyai kualifikasi yang memadai. Kenyataan ini digambarkan dengan sosok Yusa’ yang mempunyai kualifikasi cukup memadai untuk menggantikan Musa, bahkan menurut para mufasir, Yusa’lah orang yang menggantikan posisi Musa setelah Nabi Musa wafat.

Lebih lanjut, asisten ini bisa jadi merupakan langkah-langkah yang harus ditempuh dalam upaya kaderisasi. Sebab, dipungkiri atau tidak, betapapun pintarnya seseorang, suatu waktu ia pasti wafat. Seandainya semasa hidupnya tidak melakukan kaderisasi melalui sistem asistensi, ketika wafat tidak ada lagi orang yang mampu meneruskan jejaknya secara berkesinambungan.

C. Mendidik dengan Sepenuh Hati

Pendidikan formal memiliki peranan sangat penting ketika keluarga tidak lagi mampu memberikan pendidikan yang layak dan sesuai kepada anak-anaknya. Pada akhirnya lembaga ini diterima sebagai wahana proses pemanusiaan kedua setelah keluarga.

Dalam perjalanannya, ternyata tidak ada pendidikan formal yang sangat netral dan maksimal dalam prosesnya secara profesional. Ini ditandai dengan adanya praktik pendidikan yang kurang menghargai atau mengabaikan ekspresi kebebasan peserta didik.

Pendidikan yang menghargai atau membebaskan itu tidak dapat direduksi hanya sekadar usaha dalam memaksakan kebebasan kepada para peserta didik. Adapun pendidikan yang membelenggu itu dapat memberikan pengalaman yang kurang baik kepada peserta didik sehingga mereka mengikuti jalan kehidupan ini dan menerima realitas tanpa filter yang selektif.

Seyogianya sebuah lembaga pendidikan harus menempatkan peserta didik sebagai seorang insan yang sedang mengalami pemetaan (inkubasi) dan berproses untuk menjadi manusia yang siap berkarya di tengah-tengah masyarakat.

Anak adalah calon agent of change (penyebab perubahan) dan teladan di masyarakat, yang menuntun dan memberikan pencerahan bagi masyarakat yang haus keilmuan dan rindu seorang teladan. Karena itu, lembaga pendidikan sebagai lingkungan pemanusiaan kedua setelah keluarga harus mengindahkan hal ini dengan menciptakan suasana sistem yang kondusif dan kooperatif bagi segenap komponen lembaga dan peserta didik sebagai salah satunya.

Dalam hal ini, pendidik merupakan sosok yang memiliki peranan yang sangat penting, yang tidak kalah pentingnya dari sistem yang menaunginya. Dia merupakan pelaku pendidikan yang berinteraksi dengan peserta didik secara langsung. Karena itu, upaya untuk mencetak pendidik profesional yang memiliki futuristic mind (budi pekerti) menjadi sebuah keniscayaan demi perubahan kualitas pendidikan yang lebih baik.

Pendidik sebagai penyampai pengetahuan harus memiliki karakter rabbaniyah dan nubuwwah dalam menjalankan profesinya. Mendidik dengan sepenuh hati atau kesadaran spiritual yang luhur menjadi sebuah tuntutan.

Mendidik dengan sepenuh hati adalah wujud nyata dari sebuah profesionalisme kerja. Perjuangan dalam pendidikan yang dimulai dengan sebuah kekuatan komitmen terhadap tujuan ideal pendidikan akan melahirkan para mujahid sejati yang berbuat  bukan karena materi semata, melainkan kesadaran diri dalam mencetak generasi muda yang terpelajar dan berakhlak.

Kita suka berpikir bahwa hal ini tidak mungkin terjadi kalau tidak diimbangi dengan penghargaan yang sepenuh hati juga. Ada dua dimensi yang harus kita lihat.
  • Pertama, dimensi realitas ideologis. Dalam dimensi ini setiap orang membuat dan merancang definisi dan kriteria mendidik sepenuh hati. Namun mereka kadang hanya pencetus dan tidak mengalami, bahkan mencoba sekalipun.
  • Kedua, dimensi realitas objektif. Yang kedua ini merupakan komunitas atau sosok pelaku atau pejalan. Mereka menikmati dan menghayati apa yang mereka lakukan. Mereka tidak terjebak pada tataran teoretis saja sehingga mereka menjadi acquired knowledge human dan bukan perennial knowledge human.
Sosok pendidik sepenuh hati merupakan manusia yang mampu mengoordinasikan akal dan pikirannya sehingga semua aktivitas yang dilakukannya merupakan produk yang bernilai tidak hanya amal baik, tetapi lebih tinggi dari itu yaitu ibadah (amal saleh).

Pendidik sepenuh hati ibarat kujang dengan dua sisi yang memiliki ketajaman yang sama. Sisi hablum minan naas, dia penuhi dengan segenap kemampuan yang dia miliki dan menghargai berbagai kecerdasan yang ada pada para peserta didik (IQ, EQ, SQ) sementara pada sisi habluminallah ia selalu berusaha menyelaraskan akal dan pikirannya sehingga semua yang dilakukannya menjadi amal baik dan amal saleh.

Harapan idealnya adalah seperti itu walau kadang masih ada pendidik di sekolah-sekolah tertentu yang kurang menghargai kecerdasan para peserta didiknya. Menganggap nakal atau pengacau pada anak yang memiliki kecerdasan kinestetik yang dominan atau anak bodoh dan tulalit pada anak yang memiliki gaya belajar silent way atau berkebutuhan khusus. Mereka dicap sebagai golongan anak yang nakal, trouble maker, atau idiot, padahal mereka merupakan makhluk Allah yang paling sempurna.

Berkaitan dengan hal itu, sudah sepatutnya seorang pendidik menambah wawasan keilmuannya dalam hal belajar-mengajar, baik teori maupun pendekatan, sehingga mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan dapat mengantarkan ilmu kepada para peserta didik dengan lebih baik. Ketika pembelajaran dilaksanakan dalam kegembiraan, proses masuknya ilmu akan lebih mudah dan tidak ada kecanggungan di antara pendidik dan anak didik.
Itulah isi kandungan QS. Al Kahfi ayat 66-70 Bab IV tentang peran pendidik dalam membimbing peserta didiknya. Terima kasih atas kunjungannya, semoga bermanfaat


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Esensi Pendidikan QS. Al Kahfi Ayat 66-70 Bab 4"

Post a Comment

Semoga bermanfaat, silahkan bagikan artikel ini. Mohon berkomentar yang relevan, tidak membuat spam, dan jangan lupa, tinggalkan saran, atau masukan teman-teman di kolom komentar. Terimakasih