Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Keteladanan Nabi Ibrahim As: Akidah Akhlak Kelas VII Bab X

Cariduit-dot -- Bab X mata pelajaran Akidah Akhlak kelas VII akan membahas tentang Kisah Keteladanan Nabi Ibrahim alaihis salam. Sebagaimana kita ketahu bahwa Nabi Ibrahim as merupakan seorang nabi pilihan Allah SWT yang diberi gelar 'Ulul Azmi sekaligus khalilullah (kekasih Allah) dimana banyak sekali pelajaran yang harus kita contoh dan dijadikan teladan dalam kehidupan.

Silahkan baca dengan seksama kisah berikut ini!

Keteladanan Nabi Ibrahim As.

Kisah Keteladanan Nabi Ibrahim As: Akidah Akhlak Kelas VII Bab X

Kelahiran Nabi Ibrahim As.

Nabi Ibrahim As. lahir pada tahun 2295 sebelum masehi di Mausul, Iraq. Menurut salah satu riwayat beliau adalah putra Aazar (Tarih) bin Tahur bin Saruj bin Rau' bin Falij bin Aabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh As. Ia dilahirkan disebuah tempat bernama "Faddam A'rom" dalam kerajaan "Babylon" yang pada waktu itu diperintah oleh seorang raja, bernama "Namrud bin Kan'aan".

Al-Qur'an tidak menjelaskan silsilah Nabi Ibrahim As selain bahwa ayahnya bernama Azar. Al Kitab menjelaskan bahwa nama ayahnya adalah Terah.

Berikut Silsilah Nabi Ibrahim As. yang lebih jelas:

  • Sem memiliki putra bernama Arfakhsyad saat berusia 100 tahun atau 2 tahun setelah peristiwa banjir besar
  • Arfakhsyad memiliki putra bernama Syalikh saat usia 35 tahun
  • Syalikh memiliki putra bernama 'Abir saat berusia 30 tahun
  • 'Abir memiliki putra bernama Peleg/Faligh saat usia 34 tahun
  • Faligh memiliki putra bernama Rehu saat berusia 30 tahun
  • Rehu memiliki putra bernama Sarugh saat usia 32 tahun
  • Sarugh memiliki putra bernama Nahor saat berusia 30 tahun
  • Nahor memiliki putra Terah/Tarikh saat usia 29 tahun
  • Terah memiliki putra bernama Abram /Ibrahim, Nahor, dan Haran pada usia 70 tahun
Kerajaan Babylon pada saat itu termasuk kerajaan yang makmur. Rakyatnya hidup senang, sejahtera dalam keadaan serba cukup sandang maupun pangan serta sarana prasarana yang menjadi keperluan pertumbuhan jasmani mereka. Akan tetapi tingkatan kehidupan rohani mereka masih berada pada tingkat Jahiliyah (kebodohan). Mereka tidak mengenal Tuhan Pencipta yang telah menganugerahkan segala kenikmatan dan kebahagiaan duniawi. Persembahan mereka adalah patung-patung yang mereka pahat sendiri dari batu atau terbuat dari lumpur tanah.

Raja mereka Namrud bin Kan'aan menjalankan pemerintahannya dengan tangan besi dan kekuasaan mutlak. Semua kehendaknya harus terlaksana dan segala perintahnya merupakan undang-undang yang tidak boleh dilanggar atau tawar menawar. Dengan kekuasaan yang besar dan segala keistimewaannya lama kelamaan Namrud tidak puas dengan kedudukannya sebagai raja. Ia merasakan dirinya patut disembah oleh rakyatnya sebagai tuhan. Ia berfikir jika rakyatnya rela menyembah patung-patung yang tidak dapat memberi manfaat, mengapa bukan dia yang disembah sebagai tuhan

Di tengah-tengah masyarakat yang sedemikian beruknya, maka Allah menurunkan nabi Ibrahim As dari seorang ayah yang bekerja sebagai pemahat dan pedagang patung. Ia sebagai calon Rasul Allah SWT yang akan membawa cahaya kebenaran kepada kaumnya.

Semasa remajanya Nabi Ibrahim As. sering disuruh ayahnya keliling kota menjajakan patung-patung buatannya, namun karena iman dan tauhid yang telah diilhamkan oleh Allah SWT kepadanya ia tidak bersemangat untuk menjajakan barang-barang tersebut bahkan ia mengejek serta menawarkan patung ayahnya kepada pembeli dengan kata-kata: "Siapakah yang akan membeli patung-patung yang tidak berguna ini".

Nabi Ibrahim As ingin melihat bagaimana makhluk yang sudah mati dihidupkan kembali oleh Allah SWT. Nabi Ibrahim sudah berketetapan hati untuk memerangi syirik dan persembahan berhala yang berlaku dalam masyarakat kaumnya ingin lebih dahulu mempertebalkan iman dan keyakinannya, menghilangkan keragu-raguan bahwa Tuhan yang berhak disembah hanya Allah SWT semata. 

Berserulah Ia kepada Allah SWT: " Ya Tuhanku! Tunjukkanlah kepadaku bagaimana engkau menghidupkan makhlukmakhluk yang sudah mati."Allah menjawab seruannya dengan berfirman: Tidakkah engkau beriman dan percaya kepada kekuasaan-Ku? "Nabi Ibrahim menjawab:" Betul, wahai Tuhanku, aku telah beriman dan percaya kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu, namun aku ingin sekali melihat itu dengan mata kepala ku sendiri, agar aku mendapat ketenteraman dan ketenangan dan hatiku dan agar makin menjadi tebal dan kukuh keyakinanku kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu.

Allah SWT memperkenankan permohonan Nabi Ibrahim, lalu diperintahkanlah ia menangkap empat ekor burung lalu setelah memperhatikan dan meneliti bagian tubuh-tubuh burung itu, memotongnya menjadi berkeping-keping, mencampur baurkan. Kemudian tubuh burung yang sudah hancur-luluh dan bercampur baur itu diletakan di atas puncak setiap bukit dari empat bukit yang letaknya berjauhan. Setelah dikerjakan apa yang telah disyariatkan itu, Allah SWT memerintah Nabi Ibrahim untuk memanggil burung-buruh yang sudah terkoyak-koyak tubuhnya dan terpisah jauh.

Dengan izin Allah SWT dan Kuasa-Nya datanglah beterbangan empat ekor burung itu dalam keadaan utuh bernyawa seperti sedia kalanya begitu mendengan seruan dan panggilan Nabi Ibrahim As, lalu hinggaplah empat burung yang hidup kembali itu didepannya, dilihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah Yang Maha Berkuasa menghidupkan kembali makhluknya yang sudah mati sebagaimana Dia menciptakannya dari sesuatu yang tidak ada. Dengan demikian tercapailah keinginan Nabi Ibrahim As untuk menentramkan hatinya dan menghilangkan keraguan dalam iman dan keyakinannya. 

Nabi Ibrahim As Mencari Tuhannya

Pada masa Nabi Ibrahim As kebanyakan rakyat Mesopotamia (Irak sekarang) menganut politeisme yaitu menyembah lebi dari satu tuhan. Dewa bulan atau Sin merupakan salah satu berhala yang paling penting. Bintang, bulan dan matahari menjadi objek utama penyembahan.

Sewaktu kecil, Nabi Ibrahim As. sering melihat ayahnya melakukan ritual menyembah berhala tersebut. Sang ayah, Azar, bahkan membuat patung sebagai gambaran dari dewa-dewa tersebut untuk dijual dan dijadikan sembahan. Dari sinilah, nalar dan logika Nabi Ibrahim As mulai berjalan dan bentrok. Diapun coba mencari kebenaran agam yang dianut keluarganya. Dalam Al-Qur'an Surat Al-An'am ayat 76-78 dikisahkan sebagai berikut:

Artinya: 
76. "Ketika malam telah gelap, Dia melihat sebuah bintang (lalu) Dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam Dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” 

77. "Kemudian tatkala Dia melihat bulan terbit Dia berkata: "Inilah Tuhanku". tetapi setelah bulan itu terbenam,Dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat." 

78. "kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, Dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, Dia berkata: "Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Ayat menceritakan tentang Nabi Ibrahim As. dalam mencari Tuhannya, Inilah daya logika yang dianugerahkan kepada beliau dalam menolak agama penyembahan langit yang
dipercayai kaumnya serta menerima Tuhan yang sebenarnya".

Masa Dakwah Nabi Ibrahim As.

Dalam menjalankan dakwahnya, Nabi Ibrahim As dihadang dengan cobaan berat, masa jahiliyah adalah masa keserakahan dan keburukan umat manusia terbesar.

Keteladanan Nabi Ibrahim As.

Nabi Ibrahim As adalah salah satu Nabi yang dipilih Allah SWT untuk mengajarkan ajaran tauhid kepada umatnya. Beliau mendapat gelar khalilullah (kekasih Allah) juga disebut Abul Anbiyaa (bapak para nabi) karena nabi-nabi sesudah beliau adalah keturunannya, mulai dari Nabi Ismail, Ishaq, Ya'qub,Yusuf, hingga nabi Isa, Nabi besar Muhammad saw. 

Dan demikian juga junjungan Nabi kita Muhammad SAW, bin Abdullah, bin Abdil Mutholib, bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushoy bin Kilab, bin Murroh bin Ka`ab, bin Luay, bin Gholib, bin Fihir, (Fihri dilaqobi Quroisy) bin Malik bin Nadlor, bin Kinanah bin Khuzaimah, bin Mudrikah bin Ilyas, bin Mudlor bin Nizar
bin Ma`ad bin `Adnan bin Nabi Isma`il bin Ibrahim AS.


Nabi Ibrahim As diklaim oleh Yahudi sebagai Yahudi, oleh orang Nasrani diklaim juga sebagai Nasrani, dan kaum musyrikin mengklaim bahwa mereka mengikuti agama millah Ibrahim. Untuk menolak beberapa klaim dan anggapan mereka Allah SWT menurunkan ayat kepada Nabi Muhammad saw QS. Ali Imran ayat 67.

Artinya: "Ibrahim bukanlah Yahudi bukanlah Nasroni akan tetapi dia adalah yang bersih dan muslim dan dia bukan  orang yang menyekutukan Allah "

Beberapa bentuk keteladanan Nabi Ibrahim As:
  1. Keteladanan dalam hal mencari dan meyakini Allah SWT sebagai Tuhan yang wajib disembah dan menjadi tujuan utama ibadah,
  2. Keteladanan mentaati perintah Allah SWT dalam menjalankan da'wah ditempat lainnya dengan meninggalkan Siti Hajar dan Ismail di Mekah yang serba kekurangan dan keterbatasan,
  3. Keteladanan dan keberaniannya ketika ingin mereformasi masyarakatnya dan penguasanya dari penyembahan kepada materi, benda dan berhala-berhala kepada mengesakan Allah SWT. Cara menyampaikan da'wahnya juga dengan bahasa yang lembut. Sebagaimana telah dikisahkan dalam Al Quran (QS. Maryam; 41-47)
  4. Ajakan Nabi Ibrahim kepada ayahnya mendapat penentangan keras sehingga beliau di usir dari ayahnya. Sekalipun demikian Ibrahim As tetap baik dengan ayahnya dan tetap mendoakannya. Sebagai hukuman sebab Nabi Ibrahim As menghancurkan berhala-berhala yang mereka sembah, maka Nabi Ibrahim As dimasukan kedalam api sebagai penyiksaan terhadapnya. Belaiu diselamatkan oleh Allah SWT sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Anbiya ayat 69.
  5. Ketaatan Nabi Ibrahim As. ketika Ismail beranjak dewa kembali diuji Allah SWT agar menyembelih putranya. Putra yangsangat dicintai dan didamba-dambakan. Peristiwa ini dijelaskan dalam surat As-Shofaat ayat 102.
  6. Keteladanan Nabi Ibrahim As. ketika diperintah Allah SWT untuk merekonstruksi kembali Ka'bah Baitullah yang pertama di muka bumi. Hal ini dijelaskan dalam al-Qur'an surat Ali-Imran: 96-97.
  7. Menginginkan menjadi negeri yang pendduduknya diberi keberkahan dan kecukupan rezeki dari buah-buahan. Orientasi Nabi Ibrahim As selalu kedepan memikirkan anak cucu dan membangun nilai-nilai ruhani keagamaan dengan memakmurkan masjid dan memakmurkan bumi-Nya. Doa-doa Nabi Ibrahim As. dikabulkan Allah SWT dan diabadikan dalam al-Quran.
  8. Keteladanan Nabi Ibrahim As ketika beliau bertawakal kepada Allah SWT untuk meninggalkan Siti Hajar dan Ismail As. Hl ini dijelaskan dalam Al Quran surat Ibrahim: 37.
Kesimpulan

Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa keteladanan Nabi Ibrahim As adalah harus kita jadikan pedoman hidup dalam beragama dan bermasyarakat karena tidak sedikit syari'at-syari'at Nabi Ibrahim As. hingga saat dijadikan syaria't Nabi Muhammad saw.

Post a Comment for "Kisah Keteladanan Nabi Ibrahim As: Akidah Akhlak Kelas VII Bab X"