Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Khutbah Jum'at Terbaru: Cara Membentuk Pribadi Muslim Yang Unggul

Khutbah Jum'at Terbaru: Cara Membentuk Pribadi Muslim Yang Unggul
Image: Pixabay.com

Khutbah Jum'at Terbaru 2022: Cara Membentuk Pribadi Muslim/Mu'min yang Unggul.

Oleh: Ust. Wawan Hermawan, S.Ag.

Khutbah Pertama

إِنَّ الحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى اْلأَمَانَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ، وَجَاهَدَ فِيْ اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ وَعَبْدُ رَبِّهِ مُخْلِصًا حَتَّى أَتَاهُ اْليَقِيْنُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

Kehidupan manusia merupakan perjalanan panjang, melelahkan, penuh liku-liku, dan melalui tahapan demi tahapan. Berawal dari alam arwah, alam rahim, alam dunia, alam barzakh, sampai pada alam akhirat yang berujung pada tempat persinggahan terakhir bagi manusia, surga atau neraka. Al-Qur’an dan Sunnah telah menceritakan setiap fase dari perjalanan panjang manusia itu. Al-Qur’an diturunkan Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw. berfungsi untuk memberikan pedoman bagi umat manusia tentang perjalanan (rihlah) tersebut. Suatu rihlah panjang yang akan dilalui oleh setiap manusia, tanpa kecuali. 

Manusia yang diciptakan Allah swt. dari tidak ada menjadi ada akan terus mengalami proses panjang sesuai rencana yang telah ditetapkan Allah swt. Di tengah kehidupan yang senantiasa bergulir,Jumat demi jumat berlalu, seiring itu juga khutbah demi khutbahpun kita perdengarkan dan menyirami sejenak hati yang penuh ketundukan dan mengharapkan keridhoaan Allah. Kesadaran kemudian muncul dengan tekad untuk menjadi hamba Allah yang taat. 

Namun kadangkala dengan rutinitas yang kembali mengisi hari-hari kita kesadaran itu kembali tumpul bahkan luntur. Oleh sebab itulah melalui kesempatan yang baik ini saya mengajak marilah kita berupaya secara sungguh-sungguh memperbaharui keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah, memperbaharui kembali komitmen kita kepada Allah yang sering kita ulang-ulang namun jarang diresapi, sebuah komitmen yang mestinya menyertai setiap langkah kita:

إِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

"Sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya"; 

dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah termasuk orang orang yang menyerahkan diri. Setiap orang beriman pasti akan menyadari bahwa ketika ia hidup di dunia ini, ia akan hidup dalam batas waktu tertentu yang telah ditetapkan oleh penciptanya, Allah SWT. Usia manusia berbeda satu sama lainnya, begitu juga amal dan bekalnya. Kita Sebagai seorang yang berima amat menyadari bahwa kita tidak mungkin selamanya tinggal di dunia ini. Kita memahami bahwa kita sedang melalui perjalanan menuju kepada kehidupan yang kekal abadi. Sungguh sangat berbeda dan berlawanan sekali dengan kehidupan orang-orang yang tidak beriman. Allah berfirman:

"Tetapi kamu (orang-orang kafir) lebih memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal". (QS. Al-A’la: 16-17) 

Suatu kenyataan sangat tidak mungkin dapat dipungkiri bahwa dunia kini benar-benar sudah tanpa batas, tanpa batas territorial, tanpa batas pergaulan, tanpa batas kemanusiaan, dan tanpa batas kesusilaan. Tentu saja kondisi seperti ini sebagai akibat dari satu keadaan yang disebut dengan era globaliasi yang ditandai dengan transformasi (perubahan) budaya yang lebih cenderung hedonis dan matrealistik. Hedonis artinya kecintaan manusia terhadap dunia yang berlebihlebihan dan rasa takut yang amat sangat terhadap kematian di dalam Quran surat Al-Fajr 

…. dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan (QS. Al-Fajr : 20) 

Sementara matrealistik yaitu menjadi segala bentuk materi dan keduniawiaan sebagai ukuran atau standar kebahagiaan seseorang. Ini merupakan salah satu akibat dimana dunia sudah mengabaikan pedoman yang sudah ditetapkan Alloh baik di dalam Al-Quran maupun di dalam sunnahnya. Tentu kondisi seperti ini menjadi tantangan bagi kita kaum muslimin untuk senatiasa kembali kepada Al-Quran dan As-Sunah, karena jauh sebelum kondisi seperti ini terjadi sesungguhnya islam telah memprediksi akan datang suatu zaman kepada manusia di mana orang yang memegang agamanya ibarat orang yang menggenggam bara api.”(HR Tirmidzi 2140)

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api 

Mengapa “bara api”? Karena bara api jika digenggam tentu akan menyakitkan Walaupun begitu bara api itu harus tetap dipegang, melepasnya akan membuat bara api itu menjadi api neraka yang akan membakar diri kita. Karena itu Islam sebagai agama rahmatan lil alamin telah meberikan pedoman untuk menghadirkan kesejahtraan , keselamatan dan menghindari kesesatan dalam hidup yaitu berpegang kepada A-Quran dan As-Sunah. 

Berpaling dari kedua pedoman tersebut maka manusia akan menghadapi kesesatan, bagaikan berjalan disebuah hutan belantara tanpa pedoman berupa kompas dan peta. Berpegang teguh kepada Al-Quran dan As Sunah merupakan sebuah keniscayaan yang dapat meningkatkan kualitas hidup manusia seiring meningkatnya kualitas ketaqwaan, karena kulaitas ketaqwaaan seseorang berbanding lurus dengan kwalitas hidupnya, walaupun sesungguhnya kualaitas hidup seseorang tidak selalu berhubungan dengan kemewahan, jabatan, pangkat atau golongan. 

Karena Segala macam bentuk kemewahan duniawi terlalu rendah untuk dijadikan standar atau ukuran kebahagiaan, karena faktanya semua itu tidak dapat memberikan jaminan kesejahteraan dan kebahagiaan. Intinya kemuliaan seseorang itu sangat ditentukan oleh tingkat ketaqwaannnya, Alloh SWT berfirman

"Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal". (QS. Al-Hujorot ; 13) 

Derajat yang tinggi itu bukan diukur berdasarkan prestasi duniawi sebab ketika kehormatan tidak lagi diukur berdasarkan ketaqwaan, maka manusia akan mencari kehormatan dengan menghalalkan segala cara, ketika ketaqwaan tidak lagi menjadi standar kehormatan, maka harta benda, pangkat dan kedukanlah yang menjadi standar kehormatan. 

Dengan demikian maka nilai-nilai ketaqwaan akan semakin jauh dan terabaikan. Ketaqwaan ini menjadi kata kunci dalam mengatasi berbagai persoalan hidup, sebagaimana Alloh telah menegaskan bahwa orang yang bertaqwa itu akan diberikan jalan kesluar dari setiap persoalan hidupnya, orang yang bertaqwa itu akan diberikan rizki yang tidak disangka-sangka, orang bertaqwa itu akan dihapuskan segala kesalahannya, orang yang bertaqwa itu akan diberikan pahala yanag melimpah, karena hanya dengan ketaqwaan kita akan menjadi khoiru ummah (umat yang terbaik) yang selalu melaksanakan tugasnya beramar maruf nahyi mungkar. 

Orang yang telah berhasil menunjukkan kualitas hidupnya menjadi khoiru ummah yang didasari oleh ketaqwaan, maka sesungguhnya dia sudah bisa menemukan kepuasaan hati, ketentraman hidup dan ketenangan jiwa yang senantiasa didambakan oleh setiap orang. tentu saja kita berhadap mudah-mudahan kesejahtreaan lahir, ketentraman hidup dan ketenangan batin itu kita peroleh dengan jalan yang benar yang telah ditetapkan Alloh SWT. 

Maka kita penting untuk melakukan ikhtiar yang maksimal untuk menghadirkan ketaqwaan dalam diri kita. Cukuplah sejarah yang telah dikabarkan Alloh dalam Al-Quran menjadi pelajaran bagi kita akan sebuah tragedy yang amat besar ketika orang-orang sholeh, orang-orang pilihan Alloh, para Nabi dan Rasulnya dengan sikap kepatuhnya yang amat tinggi. Mereka bersujud dan menangis ketika dibacakan ayat-ayat Allah. Namun mereka meninggalkan generasi pengganti yang jauh berbeda, bahkan berlawanan dari sifat-sifat kepatuhan yang tinggi itu, yakni genarasi yanag buruk Allah SWT berfirman:

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang buruk) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan”. (Maryam: 59). 

Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa ada dua karakter utama dari generasi yang buruk yaitu adla’ush-shalah (menyia-nyiakan shalat) dan ‘wattaba’usy-syahwat (memperturutkan hawa nafsu). Ibnu Katsir menjelaskan, generasi yang adhoo’ush sholaat itu, kalau mereka sudah menyia-nyiakan sholat, maka pasti mereka lebih menyia-nyiakan kewajiban-kewajiban lainnya. Karena shalat itu adalah tiang agama dan pilarnya, dan sebaik-baik perbuatan hamba. Orang yang meninggalkan sholat oleh sebagian ulama dipandang kafir:

الْعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلاَةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ. (رواه الترمذي رقم 2621 والنسائ 1/231 ،وقال الترمذي :هذا حديث حسن صحيح غريب).

“Batas yang ada di antara kami dan mereka adalah sholat, maka barangsiapa meninggalkannya, sungguh-sungguh ia telah kafir.” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi ).

Selain itu bahayanya meniggalkan sholata itu akan memutuskan tali Islam 

لَيَنْقُضَنَّ عُرَا اْلإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِيْ تَلِيْهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ(رواه أحمد))

“Tali-tali Islam pasti akan putus satu-persatu. Maka setiap kali putus satu tali (lalu) manusia (dengan sendirinya) bergantung dengan tali yang berikutnya. Dan tali Islam yang pertamakali putus adalah hukum(nya), sedang yang terakhir (putus) adalah shalat". (Hadits Riwayat Ahmad dari Abi Umamah menurut Adz – Dzahabir perawi Ahmad perawi). 

Hadits Rasulullah itu lebih gamblang lagi, bahwa putusnya tali Islam yang terakhir adalah shalat. Selagi shalat itu masih ditegakkan oleh umat Islam, berarti masih ada tali dalam Islam itu. Sebaliknya kalau shalat sudah tidak ditegakkan, maka putuslah Islam keseluruhannya, karena shalat adalah tali yang terakhir dalam Islam. Maka tak mengherankan kalau Allah menyebut tingkah “adho’us sholah” (menyia-nyiakan/ meninggalkan shalat) dalam ayat tersebut diucapkan pada urutan lebih dulu dibanding “ittaba’us syahawaat” (menuruti syahwat), sekalipun tingkatan menuruti syahwat itu sudah merupakan puncak kebejatan moral manusia. 

Dengan demikian, bisa kita fahami, betapa memuncaknya nilai jelek orang-orang yang meninggalkan shalat, karena puncak kebejatan moral berupa menuruti syahwat pun masih pada urutan belakang dibanding tingkah meninggalkan shalat. 

Di dalam Islam Hukuman orang yang memperturutkan hawa nafsu seperti berjina hukuman hars dirajam, orang yang meminum khomer harus di dera, orang yang membunuh tanpa hak harus di bunuh lagi, orang yang mencuri mencapai nisab harus dipotong tangan. Kita tidak dapat membayangkan apa hukuman bagi orang yang meninggalkan sholat yang tingkat kemungkarannya lebih tinggi dibandingkan memperturutkan hawa nafsu tersebut. 

Di mata manusia, bisa disadari betapa jahatnya orang yang mengumbar hawa nafsunya. Lantas, kalau Allah memberikan kriteria meninggalkan shalat itu lebih tinggi kejahatannya, berarti kerusakan yang amat parah. Apalagi kalau kedua-duanya, dilakukan, yaitu meninggalkan shalat, dan menuruti syahwat, sudah bisa dipastikan betapa beratnya kerusakan. Tiada perkataan yang lebih benar daripada perkataan Allah dan RasulNya. 

Dalam hal ini Allah dan Rasul-Nya sangat mengecam orang yang meninggalkan shalat dan menuruti syahwat. Maka marilah kita jaga diri kita dan generasi keturunan kita dari kebinasaan yang jelasjelas diperingatkan oleh Allah dan Rasul-Nya itu. Mudah-mudahan kita tidak termasuk mereka yang telah dan akan binasa akibat melakukan pelanggaran amat besar, yaitu meninggalkan shalat dan menuruti syahwat.

بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah kedua

اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إله إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،قَالَ الله تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَاللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:

Kita, manusia, adalah makhluq Allah yang unik dan istimewa. Kita tercipta dari dua unsur yang sungguh berbeda satu sama lain: tanah yang berasal dari bumi dan ruh yang berasal dari langit. Terciptanya kita dari tanah menjadikan kita sebagai makhluq yang membutuhkan hal-hal yang bersifat ‘bumi’ seperti makan, minum, dan kebutuhan biologis. Sedangkan unsur ruh yang ada dalam diri kita menjadikan kita sebagai makhluq yang membutuhkan hal-hal yang bersifat ‘langit’ seperti iman, ilmu, dan semacamnya. Allah telah mengilhamkan dalam diri kita dua potensi: potensi baik (at-taqwa) dan potensi buruk (al-fujur).

(8) maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.. (9) sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, (10) dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Kemudian Allah memberikan kepada kita kebebasan untuk memilih: beriman atau kufur, menjadi baik atau menjadi buruk. Setelah memilih, kita tentu saja harus menanggung segala konsekuensinya. Dan konsekuensi tersebut tidak lain adalah balasan baik berupa surga dan balasan buruk berupa neraka. Apapun yang akan kita dapatkan, baik surga ataupun neraka, merupakan hasil dari pilihan kita sendiri. Karena itu jika ada seorang manusia yang nantinya masuk kedalam neraka, itu tidak lain adalah karena kezhalimannya kepada dirinya sendiri. Allah sedikit pun tidak berbuat zhalim kepada hamba-hambaNya. 

Allah telah memberitahukan kepada kita melalui wahyu-Nya bahwa kita diciptakan untuk beribadah dan menyembah kepada-Nya semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Seluruh kehidupan kita harus bernilai ibadah. Kita tidak hanya beribadah kepada Allah ketika kita sedang melakukan sholat dan berbagai ritual yang lainnya. Kita harus beribadah kepada Allah dalam semua sisi kehidupan. 

Caranya adalah dengan senantiasa menjadikan gerak hidup kita diridhai oleh Allah, yakni dengan mematuhi syariat-Nya yang telah Ia jelaskan dalam wahyu-Nya yang suci dan mulia. Akhinya marilah kita berdoa kepada Alloh SWT, semoga Alloh SWT senantiasa memberikan kekuatan lahir dan bathin untuk mampu menjalankan segala ketentuan yang telah ditetapkan Alloh SWT dengan penuh keyakinan bahwa tidak dzat yang patut diibadahi selain Alloh SWT.

Post a Comment for "Khutbah Jum'at Terbaru: Cara Membentuk Pribadi Muslim Yang Unggul"